Search

Sushimoo: Tantangan Bukan Hambatan

Updated: Dec 22, 2021



Siapa, sih, yang belum tahu tentang sushi? Makanan asal Jepang ini sudah cukup lama populer di Indonesia. Bahkan, sudah banyak merek dan franchise restoran sushi menjamur di kota-kota besar Indonesia. Berbagai variasi makanan ini sudah sangat familiar dengan cita rasa masyarakat Indonesia. Mulai dari rasa asli hingga fusion dengan kuliner Indonesia. Salah satu merek yang dewasa ini mendapat banyak sambutan dari pecinta kuliner adalah Sushimoo.


Siapa sangka, restoran sushi yang sekarang memiliki 81.000 pengikut di Instagram ini berawal dari sebuah dapur kecil. Eka Pranarka, pendiri sekaligus CEO Sushimoo, membagikan kisah perjalanan Sushimoo hingga seperti saat ini kepada Kita Kitchen. Kiprah Sushimoo berangkat dari sebuah dapur berukuran 3x4 meter. Eka bercerita bahwa kehadiran Sushimoo diawali dari pemikirannya bahwa sushi yang merupakan makanan sehat seharusnya bisa terjangkau untuk semua kalangan. Tidak hanya sekadar sehat, rasa yang disajikan juga harus bisa diterima dengan selera orang Indonesia. Akhirnya, terciptalah Sushimoo yang mengusung konsep halal fusion sushi.


Seperti layaknya sebuah bisnis, pasti akan menghadapi tantangan. Tantangan ini pula yang dihadapi Eka bersama Sushimoo. Seiring berjalannya waktu, tantangan tidak hanya menghampirinya sebagai owner terlebih lagi sebagai perempuan. Sebagai owner dan perempuan, Eka merasa ada tekanan akibat persepsi tentang perempuan sehingga di awal berdirinya Sushimoo, ia mengalami self-doubt. Sebagai perempuan, Eka meragukan kemampuan dirinya untuk mengemban tanggung jawab dan mengambil risiko. Masih ada pula perasaan tuntutan untuk selalu sempurna dalam setiap hal yang dilakukannya. Menjadi istri yang sempurna, menjadi ibu yang sempurna, dan owner yang sempurna.


Perasaan merasa dituntut untuk selalu sempurna membuatnya hampir mengurus setiap tumpukan pekerjaan. Ia merasa enggan untuk mengatur pembagian kerja dengan asumsi hasilnya tidak akan baik jika dikerjakan orang lain. Kenyataan berbicara sebaliknya. Hasil yang dicapai justru semakin jauh dari harapan.


Sampai akhirnya Eka menyadari bahwa tuntutan untuk menjadi sempurna adalah sesuatu yang impossible dan tidak realistis. Ditambah lagi dengan beberapa peran yang dijalankan sekaligus: istri, ibu, dan business owner. Dari situlah ia mulai memaksakan dirinya untuk berani membuat kesalahan. Kombinasi dari kesalahan dan beberapa peran sekaligus yang dijalaninya, Eka seperti menemukan kunci untuk membesarkan Sushimoo: calculated risk. “Saya selalu berusaha memastikan perusahaan berada di jalur yang tepat ke arah pertumbuhan yang sehat.” ujarnya. Dengan kunci ini, Eka menjadi business owner yang selalu mendengarkan masukan, memberikan feedback, memotivasi para pekerjanya.


Sebagai perusahaan yang terus berkembang, Sushimoo juga mendapat tantangan-tantangan baru. Hal ini juga dirasakan Eka selau owner. “Saya tidak bisa menekankan lebih tentang betapa pentingnya komunitas untuk menjadi support system kita”, ujarnya. Oleh karena itu, Eka menempatkan setiap orang yang berada di Sushimoo sebagai partner yang mendukung support system. ”Ketika merekrut untuk Sushimoo, saya selalu mau merekrut seseorang bukan sebagai pegawai tetapi sebagai seorang partner yang bisa berkontribusi memberikan pengetahuan, ide, ketrampilan, dan umpan balik.”


Semangat yang diterapkan Eka Pranarka di Sushimoo tampaknya kini telah membuahkan hasil. Saat ini, Sushimoo bisa dijumpai di 10 lokasi di Jabodetabek dengan 60 orang pekerja. Bukan tidak mungkin dalam waktu dekat ini kita akan menemukan cabang Sushimoo di lebih banyak lokasi.



14 views

Recent Posts

See All