Search

Sistergreens: Karya Sehat 3 Saudari

Updated: Dec 23, 2021




Kata ‘saudari’ mungkin tidak terdengar familiar. Walaupun begitu, ‘saudari’ merupakan salah satu kata baku yang ada di dalam KBBI. Mungkin karena penggunaannya kalah pamor dengan ‘saudara’. Jika ‘saudari’ saja sudah tidak familiar, bentuk-bentuk dari kata dasar ini lebih kehilangan panggung. Kalau ‘saudara’ memiliki ‘persaudaraan’ yang terdengar gagah, tidak halnya dengan ‘persaudarian’. Bukan hanya karena ‘persaudarian’ terdengar janggal, kata ini bahkan tidak dikenal di KBBI atau thesaurus dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kata ‘brotherhood’ bisa dengan mudah dipadankan dengan ‘persaudaraan’. Lalu bagaimana dengan ‘sisterhood’? Meskipun belum dikenal sebagai bentuk baku, bukan berarti semangat “persaudarian” tidak bisa dirasakan apalagi menjadi kerja sama yang terus bertumbuh.


Kali ini ada brand yang dari namanya saja sudah sangat kental dengan unsur sisterhood. Inilah Sistergreens. Brand yang satu ini memang sudah banyak dikenal sebagai brand dengan produk cold-pressed juice yang rasa dan manfaatnya memang luar biasa. Michelle Tarunadjaja, CEO dan co-founder Sistergreens, bercerita kepada Kita Kitchen tentang brand dimilikinya bersama dengan 2 saudarinya.



Seperti namanya, Sistergreens didirikan oleh 3 saudari. Brand ini didirikan secara tidak sengaja. Ketika masuk masa kuliah, 3 saudari ini terpaksa berpisah. Dua saudari pergi ke Los Angeles dan saudari bungsu belajar di London. Terpisah jauhnya jarak dan perbedaan waktu, ternyata mereka disatukan oleh kebiasaan yang sama: minum jus. Hampir setiap hari mereka mencicipi berbagai macam jenis jus dan mereka saling bercerita tentang rasa dan pengalaman dengan jus yang mereka dapatkan. Tanpa disepakati, mereka punya jus favorit yang sama yaitu cold-pressed juice.


Ketika masa studi sudah selesai dan pulang ke Indonesia, mereka mendapati sulitnya mencari cold-pressed juice.”Kalau produk jus sudah banyak tapi cold-pressed juice belum ada”, kata Michelle mengisahkan pengalaman awalnya. Tidak adanya produk jus favorit mereka, 3 saudari ini berinisiatif membuat jus untuk mereka konsumsi sendiri. Jus yang dibuat ternyata sangat disukai teman-teman mereka. Yang awalnya mereka hanya minta dibuatkan sedikit, lama-lama ada berinisiatif untuk membeli. Hingga akhirnya Michelle dan 2 saudarinya kewalahan akibat teman-teman mereka yang bisa pesan hingga 60 botol dalam sehari.


Dengan banyaknya permintaan, mereka mulai berpikir serius untuk mengembangkan produk cold-pressed juice. Selain itu, mereka merasa bahwa ada kekosongan produk cold-pressed juice di pasaran. “Padahal cold-pressed juice itu nutrisinya masih 95%, lho. Kalau proses yang lain pasti jauh di bawah itu”, kata Michelle menceritakan alasannya untuk selalu menggunakan proses cold-pressed. Dengan kualitas produk dipunyai, Michelle berharap Sistergreens bisa memberi manfaat lebih untuk semua konsumennya.


Bisnis yang dimulai sejak Desember 2014 ini sekarang sudah bisa ditemui di 10 cabang. Sistergreens memang berfokus pada penjualan online. Tidak heran dari 10 cabangnya, sebagian besar berada di cloud kitchen. Popularitas Sistergreens semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Banyak tawaran franchise yang diterima tetapi Michelle, selaku CEO, tidak berniat untuk mengubah model bisnisnya.


“Saya mau Sistergreens tetap homemade, fresh, family business, dan yang paling penting fun. Kalau ada orang lain, fun pasti hilang”, kata Michelle mengenai kelangsungan bisnis Sistergreens. Dengan semangat selalu fun ini, sepertinya kita sebagai konsumen hanya perlu menunggu variasi-variasi produk yang menarik lainnya dari Sistergreens.



14 views

Recent Posts

See All